Sabtu, 09 Januari 2016

ENGKAU LEBIH BERHARGA DARI APAPUN

39




“ Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagi-ku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus” (Filipi 3:7)

Sekilas ketika membaca ayat di atas, tentu kita sulit untuk mengerti jelas apa arti dari ayat tersebut. Bagimana bisa apa yang kita anggap keuntungan menjadi sebuah kerugian karena Kristus? Misalnya, bagaimana bisa keuntungan seperti kekayaan, prestasi, kekuasaan bisa di anggap sebuah kerugian karena Kristus. Ini adalah sebuah ayat yang bukan hanya sekedar ayat, tapi ini pasti mempunyai sebuah makna yang mendalam dan tentu memberikan sebuah nasehat yang tesembunyi dan sangat penting.
Ketika saya pertama kali membaca ayat di atas, saya sempat menghayati arti dari pesan yang ingin di sampaikan ayat tersebut. Walaupun pada kisah – kisah para orang kudus masa lalu, ayat tersebut menjadi sebuah kenyataan, dimana beberapa orang kudus berasal dari keturunan raja bahkan mereka mempunyai kekayaan dan kekuasaan yang tinggi, namun mereka meninggalkan itu semua dan hidup membiara demi Kristus. Kita berpikir mungkin itu hanya terjadi pada masa lalu dan tidak untuk zaman modern sekarang. Seperti ketiika orang berbicara soal mujzat yang di lakukan Yesus, orang pasti berpikir bahwa mujizat hanya terjadi pada masa lampau dan tidak pada zaman sekarang. Tapi tidak kawan, mujizat  tidak hanya terjadi pada masa lampau tapi mujizat tetap terjadi sampai sekarang. Anda bisa lihat banyak orang sembuh dari sebuah doa, dari KKR dan lain-lain, artinya MUJIZAT tetap berlaku sampai sekarang. Jika mujizat masih berlaku sampai sekarang maka tentu ayat pada Filipi 3:7 akan berlaku sampai sekarang juga.

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan aka Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah supaya aku memperoleh Kristus. Filipi 3 : 8

Dua bulan lalu, saya terkejut dengan sebuah berita bahwa seorang teman saya bernama Elisabeth yang telah mempunyai sebuah posisi sebagai vice president development di sebuah perusahaan multinasional di Amerika Serikat memilih untuk mengabdikan diri  kepada Kristus dengan bergabung dengan biara dan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dia masih muda dengan segudang prestasi yang sungguh luar biasa, dan merupakan lulusan Phd di Harvard dengan predikat SummaCumlaude, sungguh luar biasa kan? Ketika saya memperoleh informasi itu, saya termenung semalamam, dan mengingat ayat yang ada pada Filipi 3:7, saya sadar Tuhan sungguh luar biasa dan bisa memakai siapapun dari kita untuk memuliakan namanya.

Adapun informasi pesan yang saya peroleh bisa di lihat pada tulisan di bawah ini :







Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya, Inipun sia sia (Pengkhotbah 5 : 9)
Hendaklah kita jangan memikirkan dan mencintai uang secara berlebihan. Uang bukan lah segala galanya. Tapi carilah Tuhan dalam hidup dulu maka semua yang lain akan otomatis di tambahkan Tuhan dalam hidup ini.
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4 : 13)
Dalam Tuhan, segala perkara dapat kita tanggung. Dia menguatkan kita dalam menghadapi semua tantangan yang ada. Ketika kita dalam keterpurukan, kegagalan, kejatuhan, Dia menjadi sandaran kita, Dia yang termanis dalam hidup kita. Jangan pernah menyerah dalam hidup karena Tuhan Yesus selalu ada untuk menopang kita semua.







Perkenalan ku dengan Dia
Sebenarnya perkenalan saya dengan Elisabeth di mulai dari tahun 2010 melalui facebook, saya mengenalnya melalui sebuah renungan harian yang selalu dia tulis tiap hari dan share di facebook.  Saat itu dia sedang melanjutkan pendidikan di Harvard untuk program Master of Business Administration.
Dia adalah lulusan S1 Teknik Informatika ITB dengan waktu hanya 3 tahun. Luar biasa bukan? Di mana waktu tempuh kuliah kebanyakan orang sekitar 5-6 tahun untuk memperoleh gelar sarjana di ITB, Dia hanya menyelesaikan dalam waktu 3 tahun dengan predikat CUMLAUDE. Setelah dia bercerita soal aktifitas dia dan tips dia dalam berkuliah sehingga cepat lulus, semenjak itu saya sering meminta tips bagaimana untuk efisien dalam kuliah.
Karena sebelum saya mengenal Elisabet, sewaktu baru masuk kuliah saya memang mempunyai rencana untuk kuliah secepat mungkin yaitu 3 tahun untuk menyelesaikan studi sarjana teknik saya (teknik mesin). Antara percaya dan gak percaya bahwa itu bisa terjadi karena di kampus saya untuk studi teknik mesin kebanyakan menghabiskan  waktu sekitar 6 tahun untuk bisa lulus. Dari mimpi saya, tidak seorang pun yang mempunyai satu mimpi dengan saya dan bahkan tak seorang pun yang percaya itu bisa terjadi. Sampai akhirnya saya mengenal Elisabet di tahun 2010 dimana waktu itu saya memasuki semester 3, seakan-akan mimpi itu langsung jadi kenyataaan, karena ada orang yang pernah membuktikannya, walaupun orang tersebut bukanlah lulusan teknik mesin.
Elisabeth berbagi banyak hal baik di bidang tips kuliah maupun juga bidang rohani kepada saya. Saya tahu dia orang yang sangat di berkati, dia adalah orang yang rendah hati, walaupun memiliki segudang prestasi.
Salah satu inspirator saya sehingga saya bisa lulus 3 tahun di teknik mesin adalah Elisabeth, dan artikel tentang lulus 3 Tahun telah saya tulis di “Tips Cepat Lulus Kuliah”, dan Setiap pembaca artikel “Tips Cepat Lulus Kuliah” saya rekomendasikan untuk membaca artikel ini sebagai isnpirasi buat anda.
Prestasi Demi Prestasi Karena Anugerah Tuhan
Sewaktu Elsabeth di kuliah, dia bercerita bahwa dia juga aktif dalam kegiatan sosial, Jadi dia tidak hanya fokus pada belajar tapi juga mengikuti organisasi dan kegiatan sosial lainnya. Sikap rendah hati yang di miliki membuat  dia memiliki banyak teman.
Bagi saya, Elisabeth adalah sosok yang religius, dia selalu berdoa rosario setiap hari pagi dan malam, dan tentu juga membaca firman Tuhan. Dengan iman dia melakukan banyak kegiatan sosial yang mengingatkan saya pada sebuah ayat yang mengatakan Iman tanpa perbuatan adalah mati, sehingga kita perlu sebuah tindakan atas apa yang kita imani.
Setelah lulus dari ITB, Elisabeth melanjutkan sekolahnya di negeri Paman Sam, di Universitas Harvard untuk mengambil konsentrasi Master Business Adminsitration. Dia lulus dengan pujian dan kemudian melanjutkan pendidikan di Harvard juga untuk gelar Phd.
Dia masih sangat muda ketika lulus dari Ph.d, dan saat itu dia mendapat tawaran dari berbagai perusahaan, dan akhirnya dia mengambil tawaran dari salah satu persuhaan penerbangan di amerika serikat sebagai Vice President for Business development.
Dengan Prestasi yang luar biasa, tidak membuat Elisabeth sombong, dan dia tetap rendah hati dan itulah dia. Dia menginspirasi banyak orang dan saya salah satu dari orang yang diinspirasi oleh dia.

Salah satu cerita Elisabeth yang pernah dia share

YESUS TERSENYUM PADAKU
Salah satu ujud yg selalu aq sampaikan dalam doa pagi adalah “Tuhan.... berilah aku kesempatan hari ini untuk berbagi kasih dengan sesama....” Tuhan selalu mengabulkan doaku ini. Ada saja yg bisa aq lakukan: membantu menyeberangkan orang tua, mendamaikan anak2 yg bertengkar, membantu tetangga membereskan kebunnya, menyapa orang2 yg aku jumpai...... Selain hal2 yg biasa, Tuhan juga kadangkala memberi aku kesempatan yg luar biasa..... 
20 Desember 2010....... Setelah mengikuti misa pagi di Gereja St Anthony, biasanya aku langsung pulang ke rumah, tapi pagi itu aku jalan kaki berputar ambil jalan lain melewati Fenway Park, sebuah taman besar dan indah di pusat kota Boston, dengan tujuan ingin menikmati morning-sandwich di salah satu kios penjual makanan di situ.  Saat itu di pertengahan musim dingin (winter). Suhu udara sekitar minus 10 derajat Celsius. Semalam salju turun dengan lebat. Tebal salju di taman sekitar 15 cm.
Sedang aku menikmati sandwich, pandanganku terarah ke sebuah gazebo  di tengah taman. Aku lihat seorang wanita tua sedang memandang ke arahku, seolah-olah ingin memanggilku. Aku tanyakan kepada penjual makanan, apakah dia kenal dengan wanita itu. Jawabnya, “No, I’ve never seen her!” Aku beli sepotong sandwich dengan segelas susu panas dan membawanya ke gazebo. 
Aku perkirakan wanita itu berusia sekitar 60 tahunan, wajahnya putih penuh dengan kerut dan pakaiannya sangat sederhana.
“Hi.... I’m Elisabeth Sutedja....” sapaku sambil mengulurkan tangan kananku. Dia diam tak menjawab dan tak menerima uluran tanganku. Matanya tajam memandang sandwich dan susu panas yang aku bawa.
“Will you join me?” kataku sambil menyerahkan sandwich dan susu panas kepadanya. Dengan cepat dia mengambilnya dan menyantapnya dengan lahap. Nampaknya dia sudah lapar sekali.
Selesai makan, dia mulai memandang dan mengamatiku. Pandangannya terarah kepada Rosario kecil yang aku pakai di pergelangan tangan kiriku. “Christian?” tanyanya. “Yes... Catholic...” jawabku.
“Shit!” katanya keras sambil mencibirkan bibirnya.
“Why shit?” tanyaku.
“I don’t believe in God!” jawabnya.
“Why don’t you?” tanyaku lagi.
“There’s no God!” jawabnya tegas. 
“There is God!” kataku halus.
“Prove it!” pintanya.

Wah..... aku mulai putar otak..... Bagaimana caranya membuktikan Tuhan itu ada. Aku berdoa dalam hati, “Yesus tolong aku...” Dan Yesus menolong!!
Aku perhatikan tangan dan badannya menggigil. Dia pasti sangat kedinginan! Aku lepaskan mantel tebal yang aku pakai. “It’s for you” kataku sambil mengenakan mantel itu pada tubuhnya. 
Dia diam, matanya kini memandangku dengan sayu. Aku lihat air matanya menetes keluar. Aku merasa iba melihatnya. Aku peluk dia. Dia menangis keras.....
“Why are you doing this?” tanyanya sambil menangis.
“Jesus is God. He knows you’re freezing. So He asks me to give this coat to you!” jawabku.
“Really?” tanyanya. Matanya yang berlinang air mata memandangku dan kedua tangannya meraba mukaku sambil berkata pelan.... “You’re really an angel! You gave me food when I was hungry..... Then you gave me your coat when I was freezing!”
Aku kaget..... Bagaimana dia dapat mengucapkan kata-kata indah itu?
Sesuatu terjadi pada diriku! Aku merasakan sukacita yang sungguh besar! Aku merasa Yesus tersenyum padaku! Aku berjalan pulang tanpa mengenakan mantel, namun aku tak merasakan dingin samasekali!

Semuanya Untuk Kemuliaan Tuhan
Kisah ini sungguh menginspirasi bagi kita semua bahwa semua yang di lakukan dalam hidup kita adalah hanya untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk hanya sekedar mencari kesenangan diri sendiri. Karena hidup terlalu berharga hanya untuk sekolah, kerja, nikah, punya anak, sukses dan meninggal. Saya percaya Tuhan punya rencana yang lebih pada kita dari pada hanya sekedar hidup dan sukses.
Tuhan Yesus Memberkati
Amin

UNTUK BACA ARTIKEL YANG LAIN KLIK DISINI

39 komentar:

Elvis kmer mengatakan...

Semoga artikel ini bermanfaat dan menginspirasi.

Daisy Natalia mengatakan...

Bagus sekali sangat menginspirasi

Jw.Vincent mengatakan...

Amin....Puji Tuhan

Anonim mengatakan...

Apa ada fotonnya ?

Anonim mengatakan...

Apa ada fotonya Elisabeth Sutedja ?

Julianti Sugiman mengatakan...

Sungguh cerita yang luar biasa indah. Tuhan itu indah, baik dan selalu menyertai kita semua. Amin. Terima kasih atas cerita yang sangat menginspirasi ini. Tuhan memberkati. amin

Herman Soehero mengatakan...

Sangat sulit bagi kita utk menunjukan..
Buktikan Tuhan itu ada!!!

Maria telah menjawabnya dgn sempurna.
Saatnya bagi kita semua utk menjawab pertanyaan itu lagi....

Buktikan Tuhan itu ada!!!

herry mengatakan...

Amen. Haleluyah. Prise The Lord Jesus. God Bless You.

7474 simpruk mengatakan...

Amin terpujilah Tuhan Yesus

Frangky Parengkuan mengatakan...

Semoga suatu hari kelak bisa menjadi orang kudus pertama dari Indonesia... ad maiorem Dei gloriam!

tonisembiring mengatakan...

Senang melihat Suster Elizabeth berkarya, turut gembira atas pilihannya....Semoga banyak orang yang terilhami atas pilihannya ...

HeBaT mengatakan...

Semoga Sr Elizabeth, menginspirasi kita hidup untuk Tuhan.

antonius suhendy mengatakan...

Semoga cita citanya membuka sekolah untuk orang tidak mampu dipedalaman papua dikabulkan Tuhan yesus.amen.

Ferry Runtuwene mengatakan...

Dia telah menjadi berkat bagi kehidupan orang lain dan itu bukti Elisabeth tidak akan menyimpan berkat itu hanya untuk dirinya ....luarbiasa GBU

Regina Astuti mengatakan...

Istimewa!! Terimakasih atas sharing Kasihnya. Pasti menjadi Berkat bagi banyak orang yang ingin mencari Tuhan. Bahagia atas Panggilan Tuhan bagi Sr. Elizabeth dan para sahabat yg jg menginspirasi banyak orang. GBU

Maria Brigida Heny mengatakan...

Semoga kita juga bisa mjd berkat untuk orang lain... dengan cara-cara yang sederhana... Amin.. Gbu

Asnawi Wielliam mengatakan...

Tiada yang mustahil bagi Tuhan. Alleluya!

Wirawan Family mengatakan...

Conggrats to Sr.Elisabeth Sutedja telah memenuhi Panggilan Nya.

Wirawan Family mengatakan...

Conggrats to Sr.Elisabeth Sutedja telah memenuhi Panggilan Nya.

Thomas mengatakan...

Sangat bagus dan super

Viktor Sagala mengatakan...

Tuhan memberkati anda Suster Elizabeth Suteja. Tuhan memakaimu untuk membangun Papua.

firman opung mengatakan...

Luar biasa karya Kristus kepada suster Elizabeth..tetaplah menjadi berkat walaupun kata dunia itu adalah keputusan yang salah.

Solo Dios Basta mengatakan...

Terima kasih sudah berbagi kisah kasih Tuhan. Saya kalau baca renungan sudah bosan. Tapi artikel renungan ini adalah suara Tuhan melalui diri anda untuk saya. Ijin share buat teman2x saya.

Anonim mengatakan...

CERITA BOHONG!!

David Assa mengatakan...

Akun anonim berani judge suatu kisah? Munafik sekali anda

djonni ahliauwan mengatakan...

Yes , sangat memberkati , thank you LORD

djonni ahliauwan mengatakan...

Yes , sangat memberkati , thank you LORD

Novena Sagita mengatakan...

Tuhan, saya bukan apa2, jadikan lah saya sesuai kehendak Mu ya Tuhan.
Biarlah hidup hamba hanya untuk menyenangkan hati Mu ya Tuhan.

Novena Sagita mengatakan...

Tuhan, saya bukan apa2, jadikan lah saya sesuai kehendak Mu ya Tuhan.
Biarlah hidup hamba hanya untuk menyenangkan hati Mu ya Tuhan.

Daniel Seta mengatakan...

Anonim, jangan tawar hati.
Itu petuah Jesus Kristus dalam Firman Nya.
Lihat akibatnya! Postingmu, memalukan.

Gadai bpkb mobil mengatakan...

Oh ini ya mba eli. Btw apakah bisa di publish fotonya? Penasaran sy..hehe

E. Nugroho mengatakan...

Mohon maaf, tapi saya menulis surat pd Biara St.Clara di Assisi (di sana disebut Chiara, bukan Clara), dan dijawab, "sejak dulu tidak ada suster atau postulan dr Indonesia." Kalau jawabnya "kami tidak bisa memberitahu," itu dapat kita maklumi. Tapi jawabnya adalah suatu pernyataan, dan saya percaya suster di biara itu tidak akan berdusta... Entah bagaimana duduk perkara sebenarnya... Juga, kalau benar akan menjadi suster kontemplatif, mestinya tidak ada penugasan keluar, ke Papua, bangun sekolah, dll. Kerja mereka adalah berdoa, plus mungkin kerja di kebun atau mengurus ternak di biara sendiri. Maaf kalau mengganggu. Tapi saya sungguh ingin tahu duduk perkaranya 🙏

E. Nugroho mengatakan...

Mohon maaf, tapi saya menulis surat pd Biara St.Clara di Assisi (di sana disebut Chiara, bukan Clara), dan dijawab, "sejak dulu tidak ada suster atau postulan dr Indonesia." Kalau jawabnya "kami tidak bisa memberitahu," itu dapat kita maklumi. Tapi jawabnya adalah suatu pernyataan, dan saya percaya suster di biara itu tidak akan berdusta... Entah bagaimana duduk perkara sebenarnya... Juga, kalau benar akan menjadi suster kontemplatif, mestinya tidak ada penugasan keluar, ke Papua, bangun sekolah, dll. Kerja mereka adalah berdoa, plus mungkin kerja di kebun atau mengurus ternak di biara sendiri. Maaf kalau mengganggu. Tapi saya sungguh ingin tahu duduk perkaranya 🙏

Anonim mengatakan...

Cerita bagus. Too good to be true. Cek daftar alumni Harvard, cek Boeing, tidak ada nama Elisabeth Sutedja.

Anonim mengatakan...

Elisabeth Sutedja memang tidak ada, yang ada hanya Tuhan Allah Yesus Kristus. Kita semua tidak ada.

Anonim mengatakan...

Saya lupa ayat mana, yang saya ingat yaitu baiknya kita lambat untuk menilai dan cepat untuk mendengar. #semogamanfaat

Anonim mengatakan...

Jarak Fenway Park ke St Anthony Shrine di Boston cukup jauh kalau jalan kaki, apalagi kalau pas musim dingin.Sorry dongeng ini banyak bolongnya. Lulus Harvard langsung jadi VP? Impossible, especially for big company like Boeing. Please don't spread this hoax!

Anonim mengatakan...

Dok, cerita ini faktanya tidak nyambung. Geografi Boston salah, cuaca Boston waktu itu tidak cukup dingin untuk salju, apalagi 15 cm, suster Klaris tidak ada misi di Papua, ngaku2 alumni ITB,Harvard dan kerja di Boeing.Kalau mau bikin dongeng inspirasi boleh, tapi jangan cerita yang tidak masuk akal. Tentu saja biarawati di Santa Chiara tidak berdusta karena orang yang mengaku Elisabeth Sutedja ini hanya fiktif!

www.visa8988.com mengatakan...

Setuju dg pernyataan "baiknya kita lambat untuk menilai dan cepat untuk mendengar"

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com